Gambar Thumbnail generate AI
Di sebuah ruangan di Universitas Pertahanan Republik Indonesia, tiga wajah bersejarah terpajang besar di dinding, menarik perhatian siapa pun yang memandang. Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat, yang dikenal sebagai Tiga Serangkai, seolah mengundang refleksi mendalam tentang masa lalu bangsa. Kehadiran potret mereka di institusi pendidikan tinggi ini bukan sekadar pajangan, melainkan pengingat akan perjuangan panjang dan harga mahal sebuah cita-cita kemerdekaan yang pernah diperjuangkan lebih dari satu abad silam. Pada zaman itu, membayangkan sebuah negeri yang berdiri di atas kakinya sendiri dapat berujung pada kehilangan pekerjaan, kebebasan, tanah kelahiran, bahkan seluruh masa depan seseorang.
Refleksi Perjuangan Tiga Serangkai di Universitas Pertahanan
Kehadiran Tiga Serangkai di Dinding Universitas Pertahanan RI ini menggarisbawahi pentingnya memahami akar nasionalisme Indonesia. Arvindo Noviar, seorang penulis, menggambarkan bagaimana pemandangan ini membawanya kembali ke masa ketika Indonesia masih berupa impian yang sulit diwujudkan. Tiga pasang mata dari masa lalu itu, yang kini diabadikan di dinding, menjadi simbol keberanian dan perlawanan terhadap penindasan kolonial. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berani menyuarakan gagasan-gagasan progresif di tengah kekuasaan kolonial yang represif, meletakkan fondasi bagi kesadaran nasional yang kemudian tumbuh menjadi gerakan kemerdekaan. Penempatan potret mereka di Universitas Pertahanan RI adalah pengakuan atas kontribusi fundamental mereka dalam membentuk identitas dan kedaulatan bangsa. Informasi lebih lanjut mengenai konteks sejarah ini dapat ditemukan pada sumber asli yang menginspirasi artikel ini, seperti yang dilaporkan oleh JatimUPdate.id.
Indische Partij: Pelopor Nasionalisme Hindia
Roh pergerakan yang dibidani oleh Douwes Dekker (DD) melalui Indische Partij, partai politik pertama yang lahir di negeri ini, memiliki dampak yang luar biasa meskipun umurnya terbilang pendek. Dalam kurun waktu tujuh purnama, atau sekitar tujuh bulan, partai ini dipaksa tutup usia oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, A.W.F. Idenburg. Meskipun singkat, keberadaan Indische Partij cukup untuk membuat pemerintah kolonial merasa terancam. Partai ini mengusung gagasan-gagasan yang secara terang-terangan berseberangan dengan kepentingan pemerintah Hindia Belanda, menjadikannya kekuatan progresif yang menakutkan. Peran Indische Partij ini kontras dengan Boedi Oetomo yang pada masa itu dianggap mandul dalam pergerakan politik yang lebih radikal.
Douwes Dekker, dengan semangat yang membara, membawa gagasan nasionalisme Hindia dari satu mimbar ke mimbar berikutnya. Selama delapan bulan, puluhan rapat umum diselenggarakan di berbagai kota, mulai dari Batavia, Bandung, Purworejo, Yogyakarta, Solo, Kendal, Kudus, Surabaya, hingga kota-kota lainnya. Dalam setiap kesempatan, ia menawarkan sesuatu yang pada zamannya terdengar nyaris terlarang untuk dibayangkan: bahwa masyarakat Hindia berhak hidup merdeka dan menentukan nasibnya sendiri. Gagasan ini, yang kini menjadi pilar utama kemerdekaan, pada masa itu adalah sebuah provokasi yang berani dan penuh risiko. Keberanian Douwes Dekker dan rekan-rekannya dalam menyebarkan ide-ide ini menjadi cikal bakal pergerakan kemerdekaan yang lebih besar.
Gagasan Persatuan dan Kemerdekaan dari Tiga Serangkai
Pada tanggal 12 Desember 1911, dalam sebuah forum, Douwes Dekker berbicara dengan berapi-api mengenai pentingnya persatuan nasional. Kata-katanya yang lantang dan penuh keyakinan menggema, “Di dalam perjuangan politik, hendaklah kita gigih memegang teguh apa yang telah kita peroleh. Sambil mengulurkan tangan untuk merebut segala hak kita, yang belum kita miliki.” Kalimat semacam itu, di bawah pemerintahan kolonial, mempunyai harga yang sangat tinggi. Menyuarakan persatuan berarti menantang status quo dan membuka kemungkinan lahirnya sebuah kesadaran baru di kalangan masyarakat terjajah. Kesadaran bahwa orang-orang yang diperintah dapat membayangkan kehidupan tanpa orang-orang yang memerintah mereka adalah ancaman nyata bagi stabilitas kekuasaan kolonial. Gagasan persatuan yang dibicarakan DD membawa kemungkinan lahirnya sebuah kesadaran baru, yaitu bahwa masyarakat Hindia berhak atas penentuan nasib sendiri.
Warisan Tiga Serangkai di Dinding Universitas Pertahanan ini terus menginspirasi generasi penerus untuk memahami dan menghargai nilai-nilai perjuangan. Potret mereka bukan hanya sekadar gambar, melainkan representasi dari semangat perlawanan, keberanian, dan idealisme yang membentuk bangsa Indonesia. Universitas Pertahanan, sebagai lembaga yang mendidik calon pemimpin pertahanan negara, secara simbolis mengabadikan para pelopor nasionalisme ini sebagai teladan. Kisah perjuangan mereka, yang dimulai dari gagasan-gagasan radikal di awal abad ke-20, tetap relevan hingga kini. Untuk membaca lebih lanjut mengenai pandangan ini, kunjungi kembali artikel opini di JatimUPdate.id.
