Gambar Thumbnail generate AI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang mengesankan pada sesi I perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026, melanjutkan tren penguatan yang didorong oleh kembalinya aliran dana investor asing ke pasar saham domestik. Penguatan IHSG dan Bank Jumbo menjadi sorotan utama, menandakan optimisme pasar yang mulai pulih.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 12.00 WIB, IHSG menguat 35,66 poin atau 0,57%, mencapai level 6.270,16. Sepanjang sesi I, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 6.282,54 dan terendah di 6.238,40. Secara teknikal, pergerakan ini membawa IHSG kembali mendekati area 6.300, sebuah level psikologis penting, terutama setelah indeks mampu bertahan di atas level 6.250 sejak pembukaan perdagangan. Pada pembukaan, IHSG berada di level 6.254,78.
Aliran dana asing yang membaik menjadi faktor penopang utama penguatan ini. Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa investor asing membukukan net buy sebesar Rp39,5 miliar di seluruh pasar hingga tengah hari. Angka ini menandai pembalikan arah yang signifikan, mengingat pada perdagangan sebelumnya investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp708 miliar. Fenomena ini menggarisbawahi kepercayaan investor global terhadap prospek pasar Indonesia, khususnya pada sektor-sektor tertentu.
Fokus Investor Asing pada Bank Jumbo
Menariknya, dana asing kembali mengalir deras ke saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, yang sering disebut sebagai bank jumbo. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan net buy terbesar, mencapai Rp78,5 miliar. Kinerja BBCA juga menjadi penggerak utama IHSG hari ini, dengan sahamnya menguat 1,59% ke harga Rp6.400 per saham. Selain BBCA, saham-saham lain yang turut menjadi incaran investor asing adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan net buy sebesar Rp62,5 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp50,2 miliar, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp36,8 miliar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga diidentifikasi sebagai salah satu penggerak utama kinerja IHSG.
Di sisi lain, investor asing masih melanjutkan aksi jual pada sejumlah saham komoditas dan material dasar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menjadi saham dengan net sell terbesar, mencapai Rp137,1 miliar. Diikuti oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan net sell Rp56,3 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar Rp21,2 miliar, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) sebesar Rp16,8 miliar, dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) sebesar Rp16 miliar. Meskipun demikian, beberapa saham di sektor ini menunjukkan pergerakan yang berbeda di pasar. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 0,47% ke level Rp4.260 per saham, sementara PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) justru menguat 1,05% ke level Rp2.900 per saham. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga menguat signifikan sebesar 4,33% ke level Rp5.425 per saham.
Dinamika Pasar dan Sentimen Domestik
Pelaku pasar hari ini mencerna kombinasi sentimen positif dan negatif dari dalam maupun luar negeri. Dari domestik, Indonesia mencatat sejumlah kabar menggembirakan pada awal Agustus. Aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke 50,2 pada Juli dari 46,9 pada Juni. Inflasi juga melandai, bahkan terjadi deflasi bulanan sebesar 0,14%, sehingga inflasi tahunan turun menjadi 2,88%. Kinerja sektor perbankan tetap solid dengan pertumbuhan kredit mencapai 12,67% secara tahunan hingga Juni 2026. Penguatan IHSG dan Bank Jumbo juga didukung oleh sentimen positif ini.
Namun, sentimen positif tersebut dibayangi oleh data neraca perdagangan yang kembali mencatat defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Defisit ini memperpanjang tren negatif selama dua bulan berturut-turut setelah Mei juga mencatatkan defisit. Meskipun demikian, secara keseluruhan, mayoritas sektor perdagangan menguat, dengan sektor properti menguat signifikan hari ini. Selain BBCA dan BMRI, saham Maha Properti Indonesia (MPRO), Barito Renewables Energy (BREN), dan Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) juga menjadi penggerak utama kinerja IHSG. Sebaliknya, Mitra Adiperkasa (MAPI) dan Mora Telematika Indonesia (MORA) menjadi pemberat kinerja indeks.
IHSG Dekati Level Psikologis 6.300
Pada penutupan sesi I, nilai transaksi di pasar saham mencapai Rp6,47 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 19,43 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,27 juta kali transaksi. Sebanyak 381 saham menguat, 229 saham melemah, dan 178 saham bergerak stagnan. Indeks LQ45 juga menunjukkan penguatan sebesar 0,50%, mencapai level 627.039 siang ini. Meskipun IHSG sempat tertahan pada level 6.200-an sepanjang hari ini, penguatan yang terjadi di sesi I ini menunjukkan momentum positif yang kuat.
Dengan kembalinya investor asing yang memfokuskan investasi pada bank jumbo dan didukung oleh sentimen domestik yang sebagian besar positif, IHSG memiliki potensi untuk terus bergerak menuju level psikologis 6.300. Pergerakan ini akan terus dicermati oleh pelaku pasar, mengingat pentingnya level tersebut sebagai indikator kekuatan tren. Penguatan IHSG dan Bank Jumbo ini diharapkan dapat berlanjut, memberikan dorongan positif bagi pasar modal Indonesia di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
