Gambar Thumbnail generate AI
Drama perebutan takhta Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah, masih berlanjut. Konflik ini melibatkan kubu Pakubuwono (PB) XIV Purbaya dan Pakubuwono (PB) XIV Mangkubumi. Konflik internal yang telah lama membayangi keraton bersejarah ini kini merambah ke gelaran acara Sekaten. Tradisi budaya tersebut sangat dinanti masyarakat Solo dan sekitarnya. Situasi ini menciptakan sebuah persaingan Sekaten Keraton Solo yang menarik perhatian publik serta pemerintah daerah.
Salah satu kubu yang berseteru, yakni PB Purbaya, telah memulai gelaran Sekaten mereka di Alun-alun Selatan Keraton Surakarta. Mereka secara resmi membuka acara ini sejak tanggal 25 Juli lalu dan merencanakan akan berlangsung hingga awal September mendatang. Penyelenggara menyajikan berbagai hiburan rakyat, pasar malam, dan kegiatan budaya tradisional untuk memeriahkan suasana. Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, mengonfirmasi bahwa Sekaten yang mereka selenggarakan telah berjalan sesuai jadwal dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Di sisi lain, kubu PB Mangkubumi, dengan dukungan Lembaga Dewan Adat (LDA), juga tidak ketinggalan dalam upaya melestarikan tradisi Sekaten. Mereka tengah mempersiapkan gelaran acara serupa di Alun-alun Utara Keraton Surakarta. Saat ini, mereka masih melakukan proses pemasangan sejumlah wahana hiburan dan lapak pedagang, menandakan bahwa persiapan acara mereka sedang berjalan menuju puncaknya. Keberadaan dua lokasi Sekaten ini secara bersamaan menjadi cerminan nyata dari dualisme kepemimpinan yang belum usai di dalam Keraton Solo.
Sikap Resmi Pemerintah Kota Solo Terhadap Persaingan Sekaten Keraton Solo
Melihat adanya dua titik gelaran Sekaten oleh dua kubu yang berselisih hak atas takhta ini, Pemerintah Kota Solo akhirnya buka suara. Wali Kota Solo, Respati Ardi, merespons perhelatan Sekaten baik di Alun-alun Utara maupun Alun-alun Selatan Keraton Solo. Ia menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan adanya dua lokasi keramaian tersebut. Menurut Respati, Pemkot Solo mendukung penuh setiap kegiatan yang memberikan dampak positif bagi warga masyarakat. “Ya begitu lah ya. Intinya mendukung semuanya atau gimana? Ya begitu lah, yang penting bermanfaat buat masyarakat,” ujar Respati saat ditemui di Balai Kota Solo pada Senin (27/7), sebagaimana dikutip dari detikJateng. Pernyataan ini menunjukkan sikap netral pemerintah daerah dalam konflik internal keraton, dengan fokus utama pada kepentingan publik.
Pemkot Solo memberikan dukungan ini berdasarkan pertimbangan bahwa acara Sekaten, terlepas dari siapa penyelenggaranya, selalu membawa dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi kota. Ribuan pengunjung diperkirakan akan membanjiri Solo selama periode Sekaten, yang secara langsung akan menggerakkan roda perekonomian lokal, mulai dari pedagang kecil hingga sektor pariwisata. Oleh karena itu, Pemkot menganggap keberlangsungan acara ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Solo.
Penekanan pada Kepatuhan Administrasi dan Perizinan
Meskipun Pemkot telah memberikan dukungan, Wali Kota Respati Ardi menekankan pentingnya tertib administrasi dalam setiap penyelenggaraan acara publik. Ia meminta seluruh pihak penyelenggara untuk melengkapi dokumen-dokumen perizinan yang mereka butuhkan agar acara dapat berjalan lancar, aman, dan sesuai dengan aturan yang berlaku. “Saya berharap dokumen-dokumen mohon bisa dilengkapi,” tegasnya. Penekanan ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa semua aspek hukum dan keamanan telah dipenuhi, terutama dalam konteks persaingan Sekaten Keraton Solo yang tengah berlangsung. Proses perizinan yang lengkap juga akan memudahkan koordinasi antara penyelenggara dan pihak keamanan serta instansi terkait lainnya.
Kepatuhan terhadap prosedur administrasi ini adalah standar yang setiap penyelenggara acara besar harus penuhi. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan legalitas, tetapi juga dengan keselamatan dan kenyamanan pengunjung. Penyelenggara harus memastikan dan mengantongi berbagai izin, mulai dari penggunaan lokasi, keramaian, hingga aspek keamanan. Dengan demikian, potensi masalah atau insiden yang tidak diinginkan dapat diminimalisir, dan masyarakat dapat menikmati acara tanpa kekhawatiran.
Polemik Logo Pemkot dan Durasi Acara Kubu Purbaya
Salah satu isu yang muncul di tengah persiapan Sekaten adalah terkait adanya logo Pemkot Solo yang muncul dalam baliho atau tulisan di area Alun-alun Utara, lokasi Sekaten yang kubu PB Mangkubumi dan LDA siapkan. Wali Kota Respati mengaku belum mengetahui secara pasti legalitas pencantuman logo tersebut. Penggunaan logo instansi pemerintah tanpa izin resmi dapat menimbulkan pertanyaan dan membutuhkan klarifikasi lebih lanjut. “(Soal logo Pemkot) Nggak tahu. Oke, wis ya, tak nyambut gawe sik (sudah ya, mau kerja dulu),” kata Respati, mengakhiri pernyataannya tentang masalah logo tersebut, menunjukkan bahwa hal ini mungkin akan menjadi perhatian lebih lanjut bagi pemerintah kota.
Lebih lanjut mengenai gelaran Sekaten oleh kubu Purbaya, Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, menjelaskan bahwa acara mereka telah dimulai sejak 25 Juli 2026. Penyelenggara menjadwalkan perhelatan budaya ini akan berakhir pada awal September. Durasi yang cukup panjang ini memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati berbagai atraksi dan berpartisipasi dalam tradisi Sekaten. Keberadaan dua acara Sekaten yang berbeda ini memang menarik perhatian publik, namun Pemkot Solo tetap berpegang pada prinsip mendukung kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Situasi ini menunjukkan kompleksitas yang melekat pada dinamika Keraton Solo dan interaksinya dengan pemerintah daerah, di mana tradisi dan regulasi harus berjalan seiring.
Dengan demikian, meskipun persaingan Sekaten Keraton Solo antara dua kubu takhta masih berlangsung, Pemerintah Kota Solo telah mengambil sikap netral namun tegas dalam hal regulasi. Dukungan terhadap manfaat sosial dan penegasan pentingnya kepatuhan administrasi menjadi poin utama dalam respons Pemkot terhadap situasi ini. Masyarakat Solo kini memiliki dua pilihan untuk merayakan Sekaten, sambil menanti bagaimana dinamika internal Keraton Surakarta akan terus berkembang di masa mendatang.
