Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), perusahaan induk yang menaungi layanan Gojek dan GoPay, mengumumkan adanya penyesuaian signifikan terhadap target bisnis mobilitasnya. Langkah strategis ini diambil sebagai respons langsung terhadap implementasi kebijakan komisi ojek online (ojol) sebesar 8 persen yang baru-baru ini diberlakukan. Meskipun demikian, GoTo menegaskan bahwa pedoman kinerja grup secara keseluruhan untuk tahunan tidak mengalami perubahan, berkat kinerja bisnis fintech GoPay yang terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Dalam laporan kinerja keuangan kuartal II 2026 yang dirilis secara resmi, GoTo mengungkapkan bahwa pedoman kinerja untuk layanan on-demand services, yang mencakup GoRide, GoCar, dan layanan pengiriman, telah diturunkan. Target setahun penuh untuk segmen ini kini berada di kisaran Rp 1,4-1,5 triliun, menurun dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 1,7-1,8 triliun. Penurunan ini secara eksplisit disebut sebagai dampak langsung dari penerapan komisi 8 persen tersebut. Penyesuaian Bisnis Mobilitas GoTo ini menjadi fokus utama dalam strategi perusahaan ke depan.
Dampak Komisi Ojol pada Layanan Mobilitas GoTo
Kebijakan komisi ojol sebesar 8 persen telah memicu GoTo untuk mengevaluasi ulang proyeksi pendapatan dari segmen mobilitasnya. Penurunan pedoman kinerja layanan on-demand services mencerminkan perhitungan ulang perusahaan terhadap potensi pendapatan bersih yang dapat dicapai setelah pemotongan komisi. Layanan GoRide, GoCar, dan berbagai layanan pengiriman yang menjadi tulang punggung bisnis mobilitas GoTo, kini harus beroperasi di bawah struktur biaya yang berbeda. Penyesuaian ini, meskipun menantang, dianggap perlu untuk mempertahankan keberlanjutan operasional dan kesejahteraan mitra pengemudi. GoTo berkomitmen untuk terus meningkatkan kesejahteraan mitra, bahkan di tengah penyesuaian bisnis yang dilakukan.
Perusahaan telah menganalisis dampak dari kebijakan baru ini dan memutuskan untuk mengambil langkah proaktif dalam menyesuaikan target. Ini adalah bagian dari upaya GoTo untuk memastikan bahwa model bisnisnya tetap tangguh dan adaptif terhadap perubahan regulasi. Meskipun target pendapatan dari layanan mobilitas direvisi ke bawah, manajemen GoTo percaya bahwa fondasi bisnis mereka cukup kuat untuk menyerap dampak tersebut tanpa mengganggu stabilitas finansial grup secara keseluruhan. Strategi ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
GoPay Menjadi Penopang Kinerja Grup GoTo
Di tengah penyesuaian pada segmen mobilitas, kinerja bisnis fintech GoPay justru menunjukkan prospek yang sangat cerah. GoTo menaikkan pedoman kinerja fintech untuk setahun penuh menjadi Rp 1,7-1,8 triliun, dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 1,4-1,5 triliun. Peningkatan proyeksi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan GoPay diprediksi akan menjadi penopang utama bagi kinerja keuangan grup secara keseluruhan. Kontribusi kuat dari GoPay diharapkan mampu mengimbangi dampak penyesuaian yang terjadi pada layanan mobilitas, sehingga menjaga stabilitas pedoman EBITDA grup yang disesuaikan.
Pedoman EBITDA grup yang disesuaikan untuk setahun penuh tetap di angka Rp 3,2-3,4 triliun, tidak berubah dari proyeksi awal. Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi bisnis GoTo, dengan memiliki pilar yang kuat di sektor fintech, terbukti efektif dalam menghadapi tantangan di salah satu segmennya. Pertumbuhan GoPay yang berkelanjutan memberikan fleksibilitas finansial dan strategis bagi perusahaan untuk terus berinovasi dan memperluas layanannya. Informasi lebih lanjut mengenai strategi bisnis GoTo dapat ditemukan di artikel ini.
Optimisme GoTo di Tengah Penyesuaian Bisnis Mobilitas
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyatakan keyakinannya bahwa perusahaan mampu mengatasi dampak dari kebijakan skema bagi hasil baru yang ditetapkan pemerintah. “Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen dari pendapatan bersih grup. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil. Penyesuaian ini tidak mudah, tapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,” ucap Hans, seperti dikutip dari keterangan tertulis pada Senin, 3 Agustus 2026. Pernyataan ini menegaskan komitmen GoTo untuk menjaga stabilitas operasional dan finansialnya.
Optimisme ini juga didukung oleh kinerja keuangan GoTo yang positif. Sebelumnya, dalam laporan keuangan kuartal II 2026, GoTo berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar. Lebih lanjut, GoTo juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 607 miliar pada semester I 2026. Angka-angka ini menunjukkan resiliensi dan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan di tengah dinamika pasar dan perubahan regulasi. Penyesuaian Bisnis Mobilitas GoTo ini adalah bagian dari evolusi strategis perusahaan.
Dengan strategi yang terencana dan kinerja keuangan yang solid, GoTo berupaya untuk terus mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di sektor mobilitas dan fintech. Perusahaan akan terus memantau perkembangan pasar dan regulasi untuk memastikan bahwa setiap penyesuaian yang dilakukan dapat memberikan hasil terbaik bagi perusahaan, mitra, dan konsumen. Detail lebih lanjut mengenai laporan keuangan GoTo dapat diakses melalui sumber ini.
