Operasi pencarian dan penyelamatan skala besar masih terus berlangsung di Nepal menyusul bencana banjir bandang dahsyat yang melanda kawasan Himalaya pada 26 Agustus 2026. Bencana ini telah menyebabkan dampak yang sangat luas, dengan ratusan orang dilaporkan hilang dan korban jiwa terus bertambah. Hingga Kamis (28/8) petang, Badan Pariwisata Nepal mengkonfirmasi bahwa sebanyak 622 turis dari 34 negara masih belum dapat dihubungi atau dinyatakan hilang. Sementara itu, 121 orang lainnya telah berhasil dievakuasi ke tempat yang aman.
Bencana ini bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026, ketika runtuhnya gletser memicu aliran besar batu, es, lumpur, dan material lainnya yang menerjang sistem sungai di kawasan Himalaya. Kejadian ini menyebabkan kerusakan parah, terutama di area perbatasan dan bantaran sungai. Pihak berwenang dari Nepal dan Tiongkok telah mengerahkan tim gabungan untuk mencari korban dan membersihkan puing-puing di daerah yang terdampak paling parah.
Upaya Pencarian di Tengah Tantangan Banjir Bandang Nepal
Upaya pencarian dan penyelamatan kembali dilakukan oleh Nepal dan Tiongkok pada Jumat (28/8/2026), setelah bencana Banjir Bandang Nepal ini. Tim penyelamat Tiongkok, untuk pertama kalinya, berhasil mencapai kompleks perbatasan Gyirong yang hampir seluruhnya luluh lantak. Kawasan tersebut kini tinggal menyisakan reruntuhan, menunjukkan betapa dahsyatnya terjangan air dan material longsoran. Rekaman kamera pengawas di kompleks perbatasan Gyirong memperlihatkan derasnya air bercampur material longsoran menerjang bangunan dan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.
Akses jalan menuju kompleks perbatasan telah hancur total, membuat tim penyelamat harus menghadapi medan yang sangat sulit. Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa tim yang terdiri atas 21 penyelamat dan seekor anjing pencari harus melintasi pegunungan dan lembah, serta menggunakan tali untuk melewati hutan dan tebing terjal. Petugas penyelamat Zou Mingqi menggambarkan kondisi di lapangan, “Tidak ada jalan, semuanya hutan yang belum tersentuh dan tebing-tebing curam.” Evakuasi warga menggunakan helikopter juga terlihat di kamp militer di kota Battar Bazar, distrik Nuwakot, pada 27 Agustus 2026. Seorang lansia yang selamat juga dievakuasi ke tempat yang lebih aman menggunakan alat berat setelah banjir bandang dan tanah longsor di Trishuli, distrik Nuwakot, pada 26 Agustus 2026.
Daftar Negara Asal Turis yang Hilang dalam Banjir Bandang Nepal
Fokus utama pencarian adalah menemukan 622 turis dari 34 negara yang masih belum dapat dihubungi. Angka ini dikonfirmasi oleh Badan Pariwisata Nepal pada Kamis (28/8) sore. Daftar wisatawan yang masih hilang berdasarkan asal negara adalah sebagai berikut:
* Nepal: 149 orang
* India: 98 orang
* Amerika Serikat: 65 orang
* Ukraina: 61 orang
* Malaysia: 51 orang
* Australia: 35 orang
* Inggris: 33 orang
* Latvia: 29 orang
* Kanada: 25 orang
* Singapura: 9 orang
* Jerman: 8 orang
* Tiongkok: 8 orang
* Rusia: 7 orang
* Afrika Selatan: 6 orang
* Jepang: 5 orang
* Selandia Baru: 5 orang
* Prancis: 4 orang
* Kazakhstan: 3 orang
* Belgia: 2 orang
* Irlandia: 2 orang
* Belanda: 2 orang
* Portugal: 2 orang
* Spanyol: 2 orang
* Belarus: 1 orang
* Finlandia: 1 orang
* Hongaria: 1 orang
* Italia: 1 orang
* Israel: 1 orang
* Lithuania: 1 orang
* Filipina: 1 orang
* Serbia: 1 orang
* Swedia: 1 orang
* Swiss: 1 orang
* Vietnam: 1 orang
Total 622 wisatawan ini menjadi prioritas dalam operasi pencarian yang terus digencarkan oleh tim penyelamat. Sebagian besar dari warga negara asing yang hilang dalam bencana ini dilaporkan merupakan peziarah Hindu asal India.
Peringatan dan Dampak Meluas Bencana Banjir Bandang Nepal
Selain 622 turis yang hilang, otoritas penanggulangan bencana Nepal pada Jumat (28/8/2026) juga menyebutkan bahwa jumlah orang yang masih hilang secara keseluruhan hampir dua kali lipat menjadi 1.924 orang. Sebanyak 558 orang dilaporkan hilang di Gyirong County, Tibet, berdasarkan laporan stasiun televisi pemerintah Tiongkok, CCTV. Dari keseluruhan orang yang hilang dalam bencana tersebut, sedikitnya 540 orang merupakan warga negara asing. Korban tewas juga terus bertambah, dengan sedikitnya 579 orang tewas di Nepal dan tujuh orang lainnya meninggal dunia di Tibet, Tiongkok.
Badan Pariwisata Nepal telah mengeluarkan imbauan keras kepada para wisatawan dan pelaku perjalanan untuk menghindari lokasi bencana karena risiko banjir masih mengancam. “Mengingat risiko banjir yang masih berlanjut, kemungkinan jebolnya danau secara mendadak di hulu, serta banyaknya hambatan di jalan raya, para wisatawan dan pelaku perjalanan sangat diimbau untuk menghindari area bantaran sungai, jalan raya yang terdampak, dan ruas jalan yang rawan di Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavrepalanchok, Makwanpur, serta area hilir lainnya hingga kondisi membaik,” ungkap Badan Pariwisata Nepal dalam pernyataan tertulis. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan bencana ini dapat ditemukan di CNBC Indonesia.
Kondisi geografis Nepal yang berbatasan dengan Tibet (wilayah otonom Tiongkok) membuat wilayah ini rentan terhadap bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor, terutama setelah runtuhnya gletser yang memicu aliran material dahsyat. Upaya pemulihan dan pencarian diperkirakan akan memakan waktu lama mengingat skala kerusakan dan tantangan medan yang dihadapi.