Gambar Thumbnail generate AI
Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, telah melontarkan seruan penting kepada seluruh elemen masyarakat Aceh. Seruan ini mengajak mereka untuk bersatu padu dan memperkuat upaya kolektif dalam memerangi ancaman narkoba yang kian meresahkan. Dedy menyampaikan ajakan tersebut saat menghadiri sebuah acara peusijuek yang berlangsung di Pendopo Bupati Pidie Jaya pada Selasa malam, 18 Agustus 2026. Kehadiran beliau di kampung halaman ini, sebagai putra daerah yang kembali, menjadi momentum strategis untuk menggalang dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sarat makna tersebut, Dedy Tabrani menegaskan bahwa bahaya narkoba merupakan ancaman serius. Ancaman ini tidak dapat dihadapi secara efektif oleh satu institusi saja. Skala permasalahan ini menuntut adanya persatuan, kepedulian mendalam, serta kekuatan yang solid dari seluruh elemen masyarakat. Tujuannya adalah untuk melindungi Aceh, khususnya generasi muda yang merupakan tulang punggung masa depan, dari cengkeraman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Dedy menganggap ancaman narkoba ini jauh lebih besar dan mendesak dibandingkan dengan perbedaan kepentingan yang mungkin ada di antara kelompok masyarakat. Oleh karena itu, sebuah gerakan bersama yang terkoordinasi sangat dibutuhkan untuk menanggulanginya.
Kepala BNNP Aceh Serukan Persatuan Melawan Narkoba di Aceh
Secara eksplisit, Kepala BNNP Aceh mengajak para tokoh kunci di Aceh untuk mengambil peran aktif. “Saya mengajak seluruh tokoh Aceh, para ulama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan seluruh masyarakat Aceh untuk bersatu melawan narkoba. Jangan sampai kita terpecah oleh perbedaan kepentingan. Ancaman narkoba jauh lebih besar dan membutuhkan kekuatan kita bersama untuk menghadapinya,” ujar Dedy dengan nada tegas. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi untuk menyingkirkan segala bentuk perpecahan demi tujuan yang lebih besar. Upaya kolektif ini diharapkan dapat menciptakan benteng pertahanan yang kokoh di seluruh wilayah Aceh.
Dedy juga menyoroti potensi besar yang dimiliki Aceh dalam menghadapi tantangan ini. Menurutnya, Aceh diberkahi dengan kekuatan sosial yang luar biasa. Kekuatan ini terwujud melalui peran sentral ulama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga aparatur gampong di tingkat paling bawah. Masyarakat perlu menyatukan kekuatan-kekuatan tersebut dalam sebuah gerakan bersama yang terintegrasi untuk menghadapi ancaman narkoba. Ini adalah fondasi esensial bagi persatuan melawan narkoba di Aceh, sebuah perjuangan yang memerlukan partisipasi aktif dari setiap individu dan kelompok. Tanpa sinergi ini, upaya pemberantasan akan menjadi kurang optimal.
Ancaman Narkoba: Membutuhkan Kekuatan Kolektif dan Persatuan
Peringatan keras juga disampaikan oleh Dedy mengenai konsekuensi jika masyarakat memilih untuk berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi masalah ini. “Kalau kita bersatu, kita akan menjadi kuat. Kalau kita berjalan sendiri-sendiri, ancaman narkoba akan semakin mudah masuk dan merusak generasi kita. Mari kita satukan kekuatan, langkah, dan komitmen untuk menyelamatkan Aceh dari narkoba,” tegasnya. Komitmen bersama ini diharapkan tidak hanya menjadi wacana, melainkan sebuah aksi nyata yang berkelanjutan. Generasi muda Aceh harus dilindungi dari bahaya narkoba, dan tanggung jawab ini diemban bersama oleh seluruh komponen bangsa.
Prosesi peusijuek yang diterima oleh Kepala BNNP Aceh juga memiliki makna mendalam. Waled Muhammad Azawahiri, Wakil Ketua MPU Pidie Jaya, melakukan prosesi adat ini. Peusijuek ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan tulus dan doa restu dalam menyambut kehadiran Dedy sebagai tamu kehormatan. Beliau juga merupakan putra daerah yang kembali ke kampung halamannya. Momen ini secara simbolis memperkuat ikatan antara pimpinan BNNP dengan tokoh agama dan masyarakat lokal. Ini menunjukkan dukungan moral yang besar terhadap misi pemberantasan narkoba yang diusungnya.
Menyatukan Kekuatan Sosial untuk Persatuan Melawan Narkoba di Aceh
Pentingnya kolaborasi lintas sektor ditekankan berulang kali dalam setiap kesempatan. Setiap elemen masyarakat, mulai dari ulama yang membimbing umat, tokoh adat yang menjaga tradisi, tokoh masyarakat yang menggerakkan komunitas, hingga pemuda yang energik, memiliki peran krusial dalam upaya ini. Dengan menyatukan visi, menyelaraskan langkah, dan memperkuat komitmen, diharapkan upaya pemberantasan narkoba dapat berjalan lebih efektif dan mencapai hasil yang maksimal. Informasi lebih lanjut mengenai inisiatif serupa dan perkembangan terkini dapat ditemukan di laporan berita ini. Persatuan melawan narkoba di Aceh bukan hanya sekadar slogan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak demi masa depan yang lebih cerah. Hanya dengan kekuatan kolektif dan semangat kebersamaan yang tak tergoyahkan, masa depan Aceh yang bersih dari narkoba dapat diwujudkan, melindungi setiap individu dan keluarga dari kehancuran yang ditimbulkan oleh barang haram tersebut.