Pada Jumat, 28 Agustus 2026, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menarik perhatian signifikan di pasar modal Indonesia. Investor asing secara masif melakukan aksi jual saham GOTO pada sesi pertama perdagangan. Fenomena ini kontras dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan. Pergerakan ini menciptakan narasi menarik tentang dinamika pasar di tengah sentimen yang beragam.
Data dari RTI Business menunjukkan bahwa IHSG berhasil menguat sebesar 0,42% hingga penutupan sesi I siang itu, mencapai level 6.548,85. Indeks saham bahkan sempat menyentuh posisi tertingginya secara intraday pada angka 6.566,90. Penguatan ini mengindikasikan sentimen positif di pasar secara umum. Volume perdagangan tercatat sebanyak 21,62 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,79 triliun. Pelaku pasar memperdagangkan saham sebanyak 1.143.965 kali, menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.
Aksi Jual Asing GOTO di Tengah Penguatan IHSG
Meskipun IHSG menunjukkan performa positif, data RTI Business mengungkapkan tekanan jual signifikan dari investor asing. Hingga sesi I perdagangan, total foreign buy tercatat sebesar Rp 2,08 triliun, sementara foreign sell mencapai Rp 2,21 triliun. Ini menghasilkan net foreign sell sebesar Rp 125,08 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa investor asing melepas lebih banyak saham daripada yang mereka beli, menandakan adanya pergeseran portofolio atau pengambilan keuntungan.
Dalam konteks net foreign sell tersebut, investor asing paling banyak melepas saham GOTO. Berdasarkan data Stockbit, investor asing menjual saham GOTO senilai total Rp 134,90 miliar hingga penutupan perdagangan siang itu. Jumlah ini jauh melampaui kontribusi saham lain terhadap total net foreign sell, menyoroti fokus investor asing pada GOTO. Aksi jual asing GOTO ini menjadi faktor utama yang menekan pergerakan saham perusahaan di tengah optimisme pasar.
Detail Pergerakan Pasar dan Net Foreign Sell
Selain IHSG, Indeks LQ45 juga tercatat menguat sebesar 0,22%, mencapai level 642.450 hingga penutupan sesi I perdagangan. Kondisi pasar secara keseluruhan menunjukkan bahwa mayoritas saham mengalami penguatan. Tercatat sebanyak 330 saham menguat, sementara 277 saham melemah, dan 179 saham lainnya stagnan. Distribusi ini menunjukkan bahwa penguatan pasar tidak merata, dengan beberapa sektor atau emiten tertentu masih menghadapi tantangan.
Aksi jual asing GOTO yang masif ini berpotensi memberikan dampak pada sentimen investor domestik terhadap saham tersebut. Meskipun fundamental perusahaan mungkin tetap solid, tekanan jual dari investor asing seringkali menciptakan volatilitas dan ketidakpastian. Investor dapat menginterpretasikan keputusan asing untuk melepas saham GOTO saat IHSG menguat sebagai strategi diversifikasi, realisasi keuntungan, atau mungkin pandangan jangka pendek terhadap prospek perusahaan.
Dinamika pasar pada Jumat, 28 Agustus 2026, mencerminkan kompleksitas investasi di bursa saham. Di satu sisi, pasar secara umum menunjukkan resiliensi dengan penguatan IHSG dan LQ45. Di sisi lain, saham-saham tertentu, seperti GOTO, menghadapi tekanan jual yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa investor perlu melakukan analisis mendalam terhadap setiap emiten, tidak hanya terpaku pada pergerakan indeks secara keseluruhan.
Saham Lain yang Turut Dilepas Asing
Selain GOTO, investor asing juga menjual saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam jumlah cukup besar. Investor asing melepas saham BUMI dengan total nilai Rp 87,85 miliar pada sesi perdagangan yang sama. Ini menunjukkan bahwa tekanan jual asing tidak hanya terfokus pada satu emiten saja, melainkan juga menyebar ke beberapa saham lain yang mungkin mereka anggap telah mencapai valuasi tertentu atau memiliki prospek yang berbeda.
Pelaku pasar akan terus memantau pergerakan pasar yang kontras ini, di mana berdasarkan data Stockbit investor asing menjual GOTO saat IHSG menguat. Analis akan menjadikan alasan di balik aksi jual ini, serta dampaknya terhadap pergerakan saham GOTO ke depan, sebagai fokus utama. Penting bagi investor untuk tetap cermat dalam mengambil keputusan investasi, mempertimbangkan berbagai faktor makro dan mikro yang memengaruhi pasar modal.