Jakarta, 18 September 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada perdagangan sesi pertama hari Jumat ini. Tekanan jual signifikan dari investor asing mewarnai pasar modal Indonesia, yang mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell dalam jumlah besar. Fenomena ini menjadi sorotan utama di tengah dinamika pasar yang fluktuatif, mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap aset-aset domestik. Pelemahan IHSG ini terjadi meskipun ada beberapa saham yang masih menarik minat beli dari pihak asing, menunjukkan selektivitas dalam penempatan modal.
Tren Aksi Jual Asing IHSG di Sesi Pertama
Pada penutupan sesi I, total net foreign sell mencapai angka fantastis Rp1,14 triliun. Angka ini merupakan hasil dari transaksi beli asing sebesar Rp1,32 triliun, sementara transaksi jual mencapai Rp2,46 triliun. Besarnya nilai net sell ini, bagaimanapun, perlu dicermati lebih lanjut mengingat adanya transaksi jumbo di saham PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Pelaku pasar melaporkan adanya transaksi besar di pasar negosiasi BINA, dengan nilai sekitar Rp738 miliar pada harga Rp4.100 per saham. Transaksi ini melibatkan sekitar 180 juta saham, yang secara signifikan berkontribusi pada total volume dan nilai transaksi harian. Pergerakan investor asing ini seringkali menjadi indikator penting bagi sentimen pasar secara keseluruhan, dan volume penjualan yang tinggi seperti ini dapat memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar domestik. Informasi lebih lanjut mengenai pergerakan pasar dapat diakses untuk pemahaman yang lebih komprehensif.
Saham-Saham Unggulan Jadi Target Pelepasan Investor Asing
Sejumlah saham unggulan di pasar reguler menjadi sasaran utama aksi jual asing. Sektor perbankan, yang seringkali menjadi tulang punggung indeks, merasakan tekanan paling besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin daftar saham dengan net sell asing terbesar, mencapai Rp222,05 miliar. Investor asing juga melepas saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan net sell Rp108,93 miliar, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp94,06 miliar. Saham-saham lain yang juga mengalami tekanan jual signifikan dari investor asing meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp88,68 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp61,88 miliar, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan nilai Rp49,72 miliar. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan net sell Rp44,37 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp40,66 miliar, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai Rp38,48 miliar, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan Rp37,10 miliar. Pola aksi jual asing IHSG ini menunjukkan adanya rotasi atau penyesuaian portofolio yang dilakukan investor global, mungkin sebagai respons terhadap kondisi ekonomi makro atau sentimen pasar tertentu. Pelepasan saham-saham berkapitalisasi besar ini memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Di Balik Pelemahan IHSG, Ada Saham yang Diborong Asing
Meskipun tekanan jual mendominasi, beberapa saham justru menarik minat beli investor asing, menunjukkan bahwa tidak semua sektor atau emiten dihindari. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) menjadi saham dengan net buy asing terbesar hingga tengah hari, mencapai Rp41,09 miliar. Investor asing juga membeli PT Astra International Tbk (ASII) dengan pembelian sebesar Rp22,40 miliar, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang mencatatkan net buy Rp15,59 miliar. Keberadaan saham-saham yang masih diminati ini menunjukkan bahwa investor asing tetap selektif dalam menempatkan modalnya di tengah gejolak pasar, mencari peluang di tengah koreksi. Ini bisa menjadi indikasi adanya keyakinan pada prospek jangka panjang emiten-emiten tertentu. Pada akhirnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 22,69 poin atau -0,35%, berada di level 6.439,74. Sebanyak 429 saham mengalami penurunan, sementara 213 saham berhasil menguat, dan 321 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Dinamika pasar ini mencerminkan sentimen yang berhati-hati di kalangan pelaku pasar, dengan mayoritas saham bergerak di zona merah. Fluktuasi ini perlu dicermati lebih lanjut oleh para investor. Untuk analisis lebih mendalam, kunjungi sumber berita yang relevan.