Pada Senin, 14 September 2026, pasar komoditas Indonesia mencatat pergerakan signifikan. Harga emas Antam 24 karat mengalami penurunan, melanjutkan tren pelemahan sejak akhir pekan lalu. Hari ini, harga emas Antam anjlok Rp 2.000 per gram, menetapkan level baru di angka Rp 2.602.000 per gram. Sentimen pasar global yang bergejolak, ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah, mendorong kondisi ini. Pergerakan harga emas hari ini turun menjadi sorotan utama bagi para investor dan pelaku pasar.
Rincian Harga Emas Antam dan Buyback Hari Ini
Situs resmi Logam Mulia Antam pada Senin, 14 September 2026, merinci harga emas dengan variasi menarik. Untuk satuan terkecil, emas ukuran 0,5 gram seharga Rp 1.351.000. Investor yang mencari ukuran lebih besar dapat membeli emas 10 gram seharga Rp 25.515.000. Antam menawarkan ukuran terbesar, 1.000 gram atau 1 kg, pada harga Rp 2.542.600.000.
Dalam sepekan terakhir, harga emas Antam bergerak dalam kisaran Rp 2.637.000 hingga Rp 2.602.000 per gram. Sebulan terakhir, fluktuasi harga emas Antam berada di antara Rp 2.664.000 dan Rp 2.602.000 per gram. Penurunan harga emas hari ini juga memengaruhi harga buyback emas Antam, yang ikut terkoreksi Rp 2.000, sehingga mencapai level Rp 2.452.000 per gram. Harga buyback ini menjadi patokan Antam saat membeli kembali emas dari masyarakat.
Penting bagi investor untuk memahami bahwa pemerintah mengenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,9% pada pembelian emas batangan, sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34 Tahun 2017. Namun, mereka dapat memperoleh potongan pajak lebih rendah, yakni 0,45%, jika transaksi menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Investor dapat melihat informasi lebih lanjut mengenai harga dan ketentuan pada sumber resmi seperti detikFinance.
Sentimen Global dan Prediksi Pergerakan Harga Emas Hari Ini
Sentimen pasar global yang cenderung menekan harga komoditas secara langsung memengaruhi penurunan harga emas hari ini. Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa harga emas dunia dan logam mulia akan bergerak turun terbatas dalam sepekan ke depan. Ia memperkirakan kisaran harga untuk logam mulia antara Rp 2,45 juta hingga Rp 2,75 juta per gram. Salah satu faktor utama yang memengaruhi proyeksi ini adalah perkiraan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS pada September 2026.
Pada akhir pekan lalu, harga emas dunia mencapai penutupan di level 4.348 dolar AS per troy ons. Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa jika terjadi koreksi, level support pertama untuk harga emas dunia berada di 4.245 dolar AS per troy ons, dengan level support kedua di 4.102 dolar AS per troy ons. Sebaliknya, jika harga bergerak naik, level resisten pertama diperkirakan di 4.479 dolar AS per troy ons, dan level resisten kedua di 4.650 dolar AS per troy ons. “Jadi, dalam sepekan ke depan, harga emas dunia kemungkinan ditransaksikan di 4.102—4.650 dolar AS per troy ons. Selisihnya cukup tinggi,” kata Ibrahim pada Ahad, 13 September 2026 petang.
Sejalan dengan emas dunia, harga logam mulia pada akhir pekan lalu mencapai penutupan di level Rp 2,61 juta per gram. Ibrahim memprediksi, jika terjadi koreksi, level support pertama untuk harga logam mulia berada di posisi Rp 2,59 juta per gram, dan level support kedua sebesar Rp 2,45 juta per gram. Prediksi ini memberikan gambaran mengenai potensi pergerakan harga emas di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pembaca dapat mengakses informasi lebih lanjut mengenai prediksi ini melalui Republika Online.
Dampak Inflasi AS dan Geopolitik Terhadap Pasar Komoditas
Selain ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, pasar global juga menghadapi data inflasi konsumen AS bulan Agustus. Pihak berwenang merilis data ini setelah pasar Indonesia tutup pada Jumat pekan lalu. Inflasi inti AS menunjukkan kenaikan 0,3% secara bulanan, angka yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,2%. Kondisi ini semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve sebesar 25 basis poin dalam pertemuan yang The Federal Reserve jadwalkan pada 15-16 September 2026. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga menuju kisaran 3,75%-4,00% telah mencapai puncaknya.
Tekanan terhadap pasar tidak hanya datang dari Amerika Serikat. Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah juga menarik perhatian investor. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan pelayaran di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global. Kerusakan pipa minyak Arab Saudi, jalur alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz, turut memperbesar risiko gangguan pasokan. Harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel pekan lalu berpotensi kembali menarik perhatian investor. Lonjakan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Dampak sentimen global ini juga terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. Pada perdagangan Senin, 14 September 2026, IHSG langsung mengalami tekanan, merosot lebih dari 1% ke bawah level 6.500. Pukul 09.17 WIB, IHSG mencatat level 6.475,25, turun 1,01% atau 66,13 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.541,38. IHSG sempat bergerak di rentang 6.475,13 hingga 6.543,28 pada awal perdagangan, menyentuh level terendah harian hanya beberapa menit setelah pembukaan. Koreksi ini sebagian besar terjadi karena tekanan pada saham-saham tambang berkapitalisasi besar.
Secara keseluruhan, penurunan harga emas hari ini mencerminkan kompleksitas dinamika pasar global. Kombinasi antara ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, menciptakan lingkungan yang menantang bagi komoditas seperti emas. Kami menyarankan investor untuk terus memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat volatilitas yang mungkin akan terus mewarnai pasar dalam beberapa waktu ke depan.