Operasi pencarian dan penyelamatan skala besar masih terus dilakukan di Nepal dan Tiongkok menyusul banjir bandang dahsyat yang melanda kawasan Himalaya pada Rabu, 26 Agustus 2026. Update terkini banjir bandang Nepal menunjukkan jumlah korban tewas dan hilang terus bertambah, memicu kekhawatiran global yang mendalam. Selain itu, munculnya bahaya baru berupa risiko jebolnya danau gletser dan akses jalan yang terputus memperparah kondisi di lapangan, menuntut kewaspadaan ekstra dari tim penyelamat dan warga yang terdampak.
Skala Bencana dan Upaya Penyelamatan
Bencana alam yang menghancurkan ini bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026, ketika runtuhnya gletser secara tiba-tiba memicu aliran besar batu, es, lumpur, dan material lainnya. Material-material ini dengan kecepatan tinggi menerjang sistem sungai di kawasan Himalaya, menyebabkan kerusakan yang tak terbayangkan. Dampak yang ditimbulkan sangat masif, mengubah lanskap pegunungan yang indah menjadi zona puing-puing dan menghancurkan infrastruktur vital yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.
Hingga Jumat (28/8/2026), data resmi mencatat sedikitnya 579 orang dilaporkan tewas di Nepal akibat terjangan banjir bandang ini. Sementara itu, di wilayah Tibet, Tiongkok, tujuh orang lainnya meninggal dunia. Angka-angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan berlanjutnya operasi pencarian yang intensif di area-area yang sulit dijangkau.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal pada Jumat (28/8/2026) mengungkapkan bahwa jumlah orang yang masih hilang hampir dua kali lipat, mencapai 1.924 orang. Di sisi lain, di Gyirong County, Tibet, sebanyak 558 orang dilaporkan hilang, berdasarkan laporan yang disampaikan oleh stasiun televisi pemerintah Tiongkok, CCTV. Total korban hilang mencapai ribuan, menciptakan tantangan besar bagi tim penyelamat.
Tim penyelamat dari Tiongkok, dalam upaya heroik, berhasil mencapai kompleks perbatasan Gyirong yang hampir seluruhnya luluh lantak pada Jumat (28/8/2026). Kawasan tersebut ditemukan tinggal menyisakan reruntuhan, menjadi saksi bisu dahsyatnya terjangan air bercampur material longsoran yang menyapu bersih segala yang dilaluinya. Operasi pencarian dan penyelamatan kembali dilakukan dengan harapan menemukan lebih banyak korban selamat.
Medan yang ekstrem menjadi hambatan utama. Tim yang terdiri atas 21 penyelamat dan seekor anjing pencari harus melintasi pegunungan dan lembah yang terjal, serta menggunakan tali untuk melewati hutan lebat dan tebing-tebing curam. Akses jalan menuju kompleks perbatasan telah hancur total, mempersulit pengiriman bantuan dan evakuasi. Petugas penyelamat Zou Mingqi, seperti dilansir Reuters, menggambarkan kondisi di lapangan dengan berkata, “Tidak ada jalan, semuanya hutan yang belum tersentuh dan tebing-tebing curam.” Situasi ini menyoroti betapa berbahayanya misi yang sedang diemban. Informasi lebih lanjut mengenai operasi penyelamatan dapat ditemukan di CNBC Indonesia.
Ribuan Korban Hilang, Termasuk Ratusan Turis Asing
Dalam update terkini banjir bandang Nepal, perhatian besar juga tertuju pada ribuan orang yang masih belum ditemukan, yang menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan keluarga dan komunitas internasional. Dari keseluruhan orang yang dilaporkan hilang dalam bencana tersebut, sedikitnya 540 orang merupakan warga negara asing. Sebagian besar di antara mereka diidentifikasi sebagai peziarah Hindu asal India, yang sedang melakukan perjalanan spiritual di kawasan tersebut.
Badan Pariwisata Nepal mengkonfirmasi bahwa hingga Kamis (28/8) petang, sebanyak 622 turis dari 34 negara masih belum dapat dihubungi atau dinyatakan hilang. Angka ini menunjukkan skala global dari dampak bencana ini, dengan warga dari berbagai belahan dunia terdampak langsung. Sementara itu, di tengah kekacauan, 121 orang lainnya telah berhasil dievakuasi ke tempat aman, memberikan secercah harapan di tengah situasi yang suram.
Daftar wisatawan yang masih hilang berdasarkan asal negara per Kamis (28/8) sore mencakup: Nepal (149 orang), India (98 orang), Amerika Serikat (65 orang), Ukraina (61 orang), Malaysia (51 orang), Australia (35 orang), Inggris (33 orang), Latvia (29 orang), Kanada (25 orang), Singapura (9 orang), Jerman (8 orang), China (8 orang), Rusia (7 orang), Afrika Selatan (6 orang), Jepang (5 orang), Selandia Baru (5 orang), Prancis (4 orang), Kazakhstan (3 orang), Belgia (2 orang), Irlandia (2 orang), Belanda (2 orang), Portugal (2 orang), Spanyol (2 orang), Belarus (1 orang), Finlandia (1 orang), Hongaria (1 orang), Italia (1 orang), Israel (1 orang), Lithuania (1 orang), Filipina (1 orang), Serbia (1 orang), Swedia (1 orang), Swiss (1 orang), dan Vietnam (1 orang). Keberadaan mereka masih menjadi misteri, dan upaya pencarian terus diintensifkan.
Rekaman kamera pengawas di kompleks perbatasan Gyirong memperlihatkan derasnya air bercampur material longsoran menerjang bangunan dan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri. Video tersebut memberikan gambaran mengerikan tentang detik-detik bencana, di mana kekuatan alam menunjukkan dominasinya yang tak terbantahkan, menyapu bersih segala sesuatu di jalannya.
Ancaman Baru dan Peringatan Perjalanan
Di tengah upaya pencarian dan penyelamatan yang tak kenal lelah, ancaman baru kini membayangi wilayah terdampak, menambah kompleksitas krisis yang sedang berlangsung. Risiko banjir yang masih berlanjut, terutama dengan kemungkinan jebolnya danau secara mendadak di hulu, menjadi perhatian serius bagi otoritas setempat. Fenomena ini, yang dikenal sebagai ‘glacial lake outburst flood’ (GLOF), dapat melepaskan volume air yang sangat besar secara tiba-tiba, menyebabkan gelombang kehancuran baru di hilir. Selain itu, banyaknya hambatan di jalan raya akibat longsoran dan kerusakan infrastruktur menjadi tantangan besar dalam distribusi bantuan dan evakuasi.
Kondisi ini tidak hanya memperumit upaya bantuan dan evakuasi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan gelombang bencana susulan yang dapat memperparah situasi kemanusiaan. Oleh karena itu, kewaspadaan tinggi terus ditekankan kepada seluruh pihak.
Mengingat situasi yang belum stabil dan potensi bahaya yang masih ada, Badan Pariwisata Nepal telah mengeluarkan imbauan keras kepada para wisatawan untuk tidak mendekati lokasi bencana. Mereka secara spesifik meminta wisatawan dan pelaku perjalanan untuk menghindari area bantaran sungai, jalan raya yang terdampak, dan ruas jalan yang rawan di Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavrepalanchok, Makwanpur, serta area hilir lainnya hingga kondisi membaik. Imbauan ini bertujuan untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut dan memastikan keselamatan semua pihak. Detail mengenai imbauan perjalanan dan daftar turis yang hilang dapat diakses melalui Kumparan.
Update terkini banjir bandang Nepal ini menggarisbawahi skala tragedi yang sedang berlangsung, yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi. Dengan jumlah korban yang terus bertambah dan munculnya bahaya-bahaya baru, komunitas internasional diharapkan terus memberikan dukungan bagi Nepal dan Tiongkok dalam menghadapi krisis kemanusiaan yang mendalam ini. Kewaspadaan dan koordinasi yang kuat akan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak lebih lanjut dari bencana alam yang dahsyat ini, serta untuk memulai proses pemulihan jangka panjang bagi wilayah yang terdampak.