Gambar Thumbnail generate AI
Jakarta, CNN Indonesia – Pertarungan sengit antara Arsenal dan Manchester City di ajang Community Shield pada Minggu (16/8) mendatang bukan sekadar perebutan trofi perdana musim ini. Laga ini juga menjadi panggung bagi kedua raksasa Liga Inggris untuk menguji kekuatan terbaru mereka, sekaligus menghadapi sebuah fenomena yang sering disebut sebagai kutukan juara Community Shield. Trofi ini, yang seharusnya menjadi suntikan moral, justru seringkali dianggap membawa nasib buruk bagi peruntungan tim di Liga Inggris. Arsenal, yang berstatus sebagai juara Liga Inggris, akan berhadapan dengan Manchester City, sang juara Piala FA. Duel ini menjanjikan tontonan menarik, namun bayang-bayang statistik kelam bagi pemenang Community Shield telah menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola.
Menjelajahi Kutukan Juara Community Shield
Sejarah mencatat bahwa memenangkan Community Shield tidak selalu menjadi pertanda baik untuk musim Liga Inggris yang akan datang. Sejak era Premier League dimulai pada tahun 1992, hanya delapan tim yang berhasil menjuarai Liga Inggris setelah sebelumnya mengangkat trofi Community Shield. Ini adalah statistik yang cukup mencolok, menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan momentum kemenangan dari awal musim hingga akhir.
Tim terakhir yang mampu mematahkan Kutukan Juara Community Shield ini adalah Manchester City pada musim 2018/2019. Kala itu, The Citizens berhasil meraih gelar ganda, sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun, setelah musim tersebut, dalam enam penyelenggaraan Community Shield berikutnya, tidak ada satu pun tim juara yang mampu mengulang kesuksesan serupa di Liga Inggris. Ini menjadi bukti nyata bahwa kutukan tersebut memang terasa dan seringkali menghantui para pemenang.
Arsenal sendiri telah merasakan pahitnya fenomena ini berkali-kali. The Gunners pernah gagal menjadi juara Liga Inggris setelah memenangkan Community Shield pada tahun 1998, 1999, 2002, 2004, 2014, 2015, 2017, dan 2023. Pengalaman-pengalaman ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi skuad Mikel Arteta saat mereka bersiap menghadapi Manchester City. Pertanyaan besar yang muncul adalah, apakah musim ini mereka akan mampu mematahkan siklus negatif tersebut, ataukah kutukan ini akan kembali menghantui perjalanan mereka di liga?
Rekor dan Era Baru di Tengah Tantangan Kutukan Juara Community Shield
Dari segi rekor, Arsenal memiliki sejarah yang lebih kaya di Community Shield. Mereka telah memenangkan trofi ini sebanyak 17 kali, menempatkan mereka di posisi kedua setelah Manchester United yang mengoleksi 21 gelar. Kemenangan atas Manchester City akan membawa Arsenal semakin dekat untuk menyamai rekor rival abadi mereka. Bagi The Gunners, trofi ini bukan hanya soal prestise, tetapi juga kesempatan untuk membangun kepercayaan diri dan momentum positif di awal musim.
Di sisi lain, Manchester City baru mengoleksi tujuh gelar juara Community Shield. Namun, bagi The Citizens, trofi ini bisa menjadi suntikan semangat yang signifikan, terutama di era baru mereka di bawah kepemimpinan Enzo Maresca. Setelah kepergian Pep Guardiola, Maresca diharapkan membawa angin segar dan strategi baru. Kemenangan di Community Shield akan menjadi pernyataan awal yang kuat bagi Maresca dan skuadnya, menunjukkan bahwa mereka siap bersaing di level tertinggi. Trofi ini seringkali dianggap sebagai indikator awal kekuatan tim, meskipun Kutukan Juara Community Shield tetap menjadi bayang-bayang yang harus dihadapi.
Perombakan Skuad Manchester City dan Implikasinya
Kabar terbaru dari skuad Manchester City juga mencakup potensi perombakan besar di lini tengah, dimulai dengan kepindahan Tijjani Reijnders. Gelandang asal Belanda ini dikabarkan akan bergabung dengan klub Liga Pro Saudi Al-Qadsiah dalam kesepakatan senilai £52 juta. Reijnders, yang didatangkan City dari AC Milan musim panas lalu dengan biaya £46,5 juta, menunjukkan awal yang menjanjikan dalam kariernya di City. Namun, ia kesulitan memberikan dampak signifikan di musim terakhir Pep Guardiola, hanya mencetak tujuh gol dalam 47 penampilan.
Kepindahan Reijnders, yang pada Kamis lalu berlatih terpisah dari skuad utama City, tampaknya menjadi bagian dari perombakan signifikan di lini tengah klub. Al-Qadsiah sendiri kini dikelola oleh mantan pelatih Liverpool, Celtic, dan Leicester, Brendan Rodgers. Selain Reijnders, masa depan pemain kunci seperti Rodri, yang merupakan pemain terbaik Piala Dunia 2026, juga sedang dipertanyakan. Minat terhadap gelandang internasional Argentina Enzo Fernandez dari Chelsea juga telah dilaporkan, mengindikasikan bahwa lini tengah City akan mengalami perubahan besar. Reijnders sendiri adalah bagian dari skuad Belanda di Piala Dunia 2026, membuat tiga penampilan di babak grup melawan Jepang, Swedia, dan Tunisia, meskipun ia absen di babak 32 besar saat Belanda kalah adu penalti dari Maroko.
Dengan perubahan di tubuh Manchester City dan ambisi besar Arsenal, laga Community Shield ini akan menjadi lebih dari sekadar pertandingan pembuka musim. Ini adalah ujian mental dan strategis bagi kedua tim, terutama bagi mereka yang berani menantang Kutukan Juara Community Shield. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang, dan yang lebih penting, siapa yang akan mampu mematahkan kutukan yang telah lama menghantui para juara?
