Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, baru-baru ini melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Menurut Didik, kebijakan yang cenderung berorientasi ke dalam atau ‘inward looking’ telah mengabaikan potensi besar dari sektor luar negeri, sebuah pendekatan yang dinilai menghambat upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius. Pernyataan ini disampaikan Didik dalam keterangannya kepada Republika pada Ahad (9/8/2026), menyoroti urgensi perubahan paradigma ekonomi nasional.
Didik J. Rachbini berpendapat bahwa sudah saatnya pemerintah melakukan transisi fundamental menuju cara pandang yang berorientasi ke luar, atau ‘outward looking’. Kritik ini muncul di tengah realitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang moderat, berkisar di angka 5 persen, meskipun berbagai upaya dan dinamika kebijakan telah diimplementasikan. Ia menegaskan bahwa tanpa perubahan orientasi, target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, khususnya 8 persen, akan sulit dicapai secara berkelanjutan.
Kritik Terhadap Kebijakan Inward Looking
Didik J. Rachbini secara eksplisit mengidentifikasi kelemahan mendasar dalam strategi ekonomi pemerintah saat ini. Ia menyatakan, “Kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking. Pemerintah hanya mengemas sektor dalam negeri dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat sekitar 5 persen.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa fokus eksklusif pada sektor domestik, meskipun diiringi berbagai kebijakan kontroversial, belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melampaui batas moderat yang ada.
Didik juga menyoroti ketergantungan pada belanja pemerintah sebagai pendorong utama pertumbuhan. Ia menilai bahwa belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen. Pendekatan ini, menurutnya, tidak menciptakan fondasi pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan. Apalagi, fiskal juga memiliki keterbatasan masa, yang berarti pemerintah tidak dapat mempertahankan ketergantungan pada instrumen ini dalam jangka panjang. Kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang cenderung inward looking ini dapat dibaca lebih lanjut dalam laporan lengkapnya di artikel Republika.
Mendesak Transisi ke Kebijakan Outward Looking
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius, Didik J. Rachbini menekankan pentingnya adopsi Kebijakan Outward Looking. Transisi ini melibatkan pengalihan fokus dari hanya mengandalkan kekuatan internal menuju pemanfaatan peluang dan dinamika pasar global. Dengan mengintegrasikan sektor luar negeri secara lebih aktif, Indonesia dapat membuka akses ke pasar yang lebih luas, menarik investasi asing, serta mendorong ekspor produk dan jasa yang memiliki daya saing internasional. Didik meyakini pendekatan ini mampu menciptakan mesin pertumbuhan baru yang lebih dinamis dan tidak hanya bergantung pada konsumsi domestik atau belanja pemerintah.
Didik berargumen bahwa negara-negara yang berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi seringkali mengadopsi strategi yang berorientasi ekspor dan investasi asing langsung. Dengan demikian, ia mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang lebih proaktif dalam menarik modal asing, memfasilitasi perdagangan internasional, dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global. Ini bukan hanya tentang membuka pintu bagi barang dan jasa dari luar, melainkan juga tentang bagaimana Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global dan memanfaatkan keunggulan komparatifnya.
Mencapai Pertumbuhan 8 Persen Melalui Orientasi Global
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, yang seringkali menjadi aspirasi, memerlukan strategi yang jauh lebih komprehensif daripada sekadar mengandalkan stimulus domestik. Didik J. Rachbini menegaskan bahwa Kebijakan Outward Looking adalah kunci untuk membuka potensi pertumbuhan tersebut. Dengan mengoptimalkan sektor luar negeri, pendekatan ini dapat menciptakan berbagai peluang baru, mulai dari peningkatan volume ekspor, diversifikasi tujuan ekspor, hingga penarikan investasi yang membawa teknologi dan keahlian baru ke dalam negeri. Ini akan mendorong produktivitas dan efisiensi di berbagai sektor industri.
Implementasi kebijakan ini akan menuntut pemerintah untuk meninjau ulang regulasi yang mungkin menghambat investasi asing dan perdagangan internasional, serta memperkuat diplomasi ekonomi. Kolaborasi dengan mitra dagang dan investasi strategis global juga akan menjadi elemen krusial. Dengan demikian, ekonomi Indonesia tidak hanya akan menjadi lebih tangguh terhadap gejolak domestik, tetapi juga lebih kompetitif di panggung global. Didik menganggap pandangan yang berorientasi ke luar ini esensial untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan signifikan, seperti yang diuraikan dalam laporan awal Republika Online. Tanpa perubahan ini, Indonesia berisiko mengalami siklus pertumbuhan moderat yang tidak mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat secara optimal.
