Gambar Thumbnail generate AI
Jakarta – Ribuan warga memadati Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, untuk mengikuti acara Zikir dan Doa Kebangsaan. Gelaran akbar ini menjadi momentum penting bagi para pejabat tinggi negara dan masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa demi keutuhan serta persatuan bangsa Indonesia. Acara yang berlangsung sejak sore hari ini dipimpin langsung oleh Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.
Kehadiran para pemimpin negara dan tokoh masyarakat di tengah ribuan warga menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan dan stabilitas. Suasana khidmat terasa sepanjang acara, di mana doa-doa dipanjatkan dan selawat dilantunkan, menciptakan energi positif yang diharapkan dapat menyatukan seluruh elemen bangsa. Berbagai pejabat pemerintah turut serta dalam kegiatan ini, menegaskan pentingnya spiritualitas dalam membangun fondasi kebangsaan yang kuat.
Peran Tokoh dalam Zikir dan Doa Kebangsaan Monas
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menjadi salah satu tokoh sentral yang hadir dalam Zikir dan Doa Kebangsaan Monas. Beliau tiba di Silang Selatan Monas sekitar pukul 21.10 WIB, langsung mengisi kursi di sebelah Menag Nasaruddin Umar. Kehadiran Muzani disambut hangat oleh Habib Syech bin Abdul Qodir As-Segaf, yang saat itu tengah memimpin lantunan selawat. “Alhamdulillah jib, Bapak Ketua MPR kita, Bapak Muzani,” ucap Habib Syech, menyambut kedatangan Ketua MPR. Muzani pun segera mengikuti lantunan selawat yang dipimpin oleh Habib Syech, menunjukkan partisipasinya yang mendalam dalam acara tersebut.
Selain Ketua MPR, beberapa menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih juga terlihat hadir. Di antaranya adalah Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wamensesneg Juri Ardiantoro, dan Wamendiktisaintek Stella Christie. Para pemuka agama dan tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang juga turut memeriahkan acara, memperkuat pesan kerukunan dan kebersamaan. Kehadiran mereka menjadi simbol representasi dari beragamnya elemen masyarakat yang bersatu dalam doa.
Presiden Prabowo Subianto sendiri sejatinya dijadwalkan hadir dalam acara Zikir dan Doa Kebangsaan ini. Namun, beliau tidak dapat turut serta karena tugas kenegaraan yang sangat penting. Menag Nasaruddin Umar menyampaikan salam dari Presiden Prabowo kepada seluruh hadirin, memastikan bahwa meskipun tidak hadir secara fisik, dukungan dan doa dari kepala negara tetap menyertai jalannya acara. Hal ini menunjukkan bahwa agenda kebangsaan seperti ini mendapat perhatian serius dari jajaran pemerintahan tertinggi.
Harapan Ketua MPR untuk Persatuan Bangsa
Di penghujung gelaran Zikir dan Doa Kebangsaan Monas, Ketua MPR Ahmad Muzani mengungkapkan harapan dan doanya yang tulus untuk bangsa Indonesia. Dalam pidato jelang penutup acara, Muzani menyampaikan harapannya yang mendalam akan keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia. “Kita baru saja menyampaikan zikir dan doa, mudah-mudahan semua zikir dan doa kita diterima Allah SWT, mudah-mudahan dengan doa dan zikir Indonesia dalam keadaan utuh, mudah-mudahan kita tetap dipersatukan Allah SWT,” kata Muzani. Pernyataan ini menegaskan kembali tujuan utama dari acara tersebut, yaitu memohon perlindungan dan persatuan ilahi bagi negara.
Beliau juga mengungkapkan harapan agar bangsa Indonesia dihindarkan dari perpecahan dan agar pemimpin negara selalu dalam lindungan-Nya. Pesan ini sangat relevan mengingat tantangan yang mungkin dihadapi bangsa, dan doa untuk para pemimpin adalah bentuk dukungan spiritual dari masyarakat. Harapan akan persatuan ini menjadi inti dari pidato Muzani, yang disambut dengan antusiasme oleh ribuan warga yang hadir. Doa bersama ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menjaga keharmonisan dan solidaritas.
Menag Nasaruddin Umar juga menyampaikan informasi penting terkait indeks kerukunan beragama di Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa skor Indeks Kerukunan Umat Beragama di RI telah meningkat, mencapai titik tertinggi sejak Indonesia merdeka. Peningkatan ini menjadi kabar baik yang menunjukkan bahwa upaya-upaya menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama membuahkan hasil positif, sejalan dengan semangat Zikir dan Doa Kebangsaan Monas yang mengedepankan persatuan.
Penutup Acara dan Semangat Kebangsaan
Acara Zikir dan Doa Kebangsaan berlangsung sejak sore hari dan berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Gelaran ini ditutup dengan suasana yang penuh semangat kebangsaan. Seluruh hadirin, termasuk para pejabat dan ribuan warga, bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu nasional Hari Merdeka, yang semakin mengobarkan rasa cinta tanah air dan patriotisme.
Penutupan yang diiringi lagu-lagu nasional ini menjadi simbol kuat dari komitmen bersama untuk menjaga kedaulatan dan identitas bangsa. Zikir dan Doa Kebangsaan Monas tidak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga manifestasi dari semangat persatuan dan kebersamaan yang terus dipupuk di tengah masyarakat. Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi keutuhan dan kemajuan Indonesia di masa mendatang.
